<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Me and My Life</title>
	<atom:link href="http://aisyah.jilbaber.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aisyah.jilbaber.com</link>
	<description>dan Dia-lah yang Menjadikan Kita Ada.....</description>
	<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 04:59:06 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Menjelang Sidang Sripsi&#8230;&#8230;..</title>
		<link>http://aisyah.jilbaber.com/2010/07/31/menjelang-sidang-sripsi/</link>
		<comments>http://aisyah.jilbaber.com/2010/07/31/menjelang-sidang-sripsi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 04:59:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Putri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<category><![CDATA[skripsi]]></category>

		<category><![CDATA[ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aisyah.jilbaber.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya setelah sekian lama aku berkutat dengan skripsiku. Antara ya dan tidak tiap kali harus bimbingan ke dosen, hmmmm&#8230;.akhirnya aku diijinkan untuk sidang skripsi.Mengerjakan skripsi hampir 2 tahun dengan diselingi mengasuh anak, fiuh sungguh pekerjaan yang gak mudah. Mesti bisa bagi waktu dan perhatian. Selama perjalanan panjang itu inilah akhir muaranya. Meskipun lelah tapi aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya setelah sekian lama aku berkutat dengan skripsiku. Antara ya dan tidak tiap kali harus bimbingan ke dosen, hmmmm&#8230;.akhirnya aku diijinkan untuk sidang skripsi.Mengerjakan skripsi hampir 2 tahun dengan diselingi mengasuh anak, fiuh sungguh pekerjaan yang gak mudah. Mesti bisa bagi waktu dan perhatian. Selama perjalanan panjang itu inilah akhir muaranya. Meskipun lelah tapi aku masih harus semangat. Minggu depan saatnya aku menunjukkan apa yang aku bisa. Apapun dijawab sejujurnya sesuai dengan yang kukerjakan. &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..mohon doanya ya semua &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aisyah.jilbaber.com/2010/07/31/menjelang-sidang-sripsi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Termehek-mehek Trans TV beneran gak sih??</title>
		<link>http://aisyah.jilbaber.com/2010/03/23/termehek-mehek-trans-tv-beneran-gak-sih/</link>
		<comments>http://aisyah.jilbaber.com/2010/03/23/termehek-mehek-trans-tv-beneran-gak-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 13:59:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Putri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aisyah.jilbaber.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu ada seorang tetangga dekatku, meminta tolong padaku. Sambil berderai-derai (heheh…lebay) dia menceritakan tentang hubungannya dengan suaminya, yang dengan berbagai masalah akhirnya membuat suaminya pergi meninggalkannya. Sebagai seorang tetangga baru, tentunya ini hal pertama yang mengagetkanku, kok dia percaya ma aku ya, bukannya kita kenal aja belum ada hitungan bulan. Hmmm…tapi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Beberapa waktu yang lalu ada seorang tetangga dekatku, meminta tolong padaku. Sambil berderai-derai (heheh…lebay) dia menceritakan tentang hubungannya dengan suaminya, yang dengan berbagai masalah akhirnya membuat suaminya pergi meninggalkannya. Sebagai seorang tetangga baru, tentunya ini hal pertama yang mengagetkanku, kok dia percaya ma aku ya, bukannya kita kenal aja belum ada hitungan bulan. Hmmm…tapi dengan berbekal perasaan kasihan dan masih tertegun mendengarnya bicara sambil sesekali mengusap air matanya menahan sedih, akhirnya kutahu apa tujuannya bercerita padaku.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ternyata suatu hari ketika ia berkunjung ke rumahku, tanpa sengaja melihat suamiku sedang surfing di internet. Tiba-tiba secercah harapan muncul di pikirannya. Kenapa tidak minta tolong pada aku saja, yang notabene punya suami yang kerjaannya tiap hari surfing di internet untuk mengirimkan kisahnya dan meminta bantuan pada tim Termehek-mehek Trans TV.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Oke, aku langsung aja mengiyakan keinginannya tanpa basa basi. Toh untuk membantu mengirimkan kisahnya saja tak butuh mengeluarkan dana sepeser pun. So, dengan sukarela kutuliskan kisahnya dengan segala bumbu2nya. Namun, menjelang waktu untuk mengirimkannya, aku sempat bertanya-tanya dalam hati, bener gak sih Termehek-mehek itu memang tujuannya menolong orang-orang yang ingin dibantu pencarian terhadap orang-orang terdekat?. Kok terkadang keliatan kayak dah disetting ya, bahkan kadang lebih mirip sinetron.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Masa tiap cari orang selalu diwarnai konflik, mulai dari yang ringan sampai parah. Kalo emang beneran reality show, tentunya kalo di suatu tempat terjadi konflik yang mengundang banyak orang gitu kan, besoknya dah muncul beritanya di surat kabar daerah itu. Kok ini tenang-tenang aja. Masa ada klien yang sampai mau bunuh diri juga gak jadi berita?. Lha terus jadi makin bertanya-tanya kalo pas ngeliat presenternya dimaki-maki orang, atau kadang ikut dipukul segala, masa gak ada tindakan hukum yang dilakukan ma tuh presenter. Melaporkan ke polisi atas tuduhan penghinaan kek, atau tuduhan penganiayaan ringan, juga gak dilakuin.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Aku sih masih postif thinking ja, sebelum da klarifikasi apapun dari Termehek-mehek. Serta tetap dengan setia membantu tetanggaku mengirimkan kisahnya. Setidaknya membuat hatinya puas, bahwa dia yang membutuhkan bantuan untuk mencari suaminya yang hilang ini bisa segera mendapat bantuan. Dan, aku masih bingung apakah Termehek-mehek itu drama reality atau reality show???.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aisyah.jilbaber.com/2010/03/23/termehek-mehek-trans-tv-beneran-gak-sih/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Didera sakit cacar air yang tak disangka-sangka.</title>
		<link>http://aisyah.jilbaber.com/2010/02/04/didera-sakit-cacar-air-yang-tak-disangka-sangka/</link>
		<comments>http://aisyah.jilbaber.com/2010/02/04/didera-sakit-cacar-air-yang-tak-disangka-sangka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 02:12:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Putri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aisyah.jilbaber.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Sudah hampir seminggu bergumul dengan yang namanya demam, gatal, nyeri sendi, gak nafsu makan en lemes bin males ngelakuin pa ja. Beneran gak nyangka ikhwal aku habis rekreasi ke Taman Safari malah pulang bawa oleh-oleh penyakit yang nurut aku bikin jijik. Bayangin aku yang awalnya mengira kena radang usus buntu, karena memang perutku yang sebelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Sudah hampir seminggu bergumul dengan yang namanya demam, gatal, nyeri sendi, gak nafsu makan en lemes bin males ngelakuin pa ja. Beneran gak nyangka ikhwal aku habis rekreasi ke Taman Safari malah pulang bawa oleh-oleh penyakit yang nurut aku bikin jijik. Bayangin aku yang awalnya mengira kena radang usus buntu, karena memang perutku yang sebelah kanan bawah terasa sakit, ehhh…gak tahunya malah cacar air yang menyebalkan ini. Dia datang gak disangka-sangka trus bikin sekujur tubuhku kayak lautan bintil2 merah berisi cairan. Sungguh kalau ini bukan tubuhku sendiri, sudah lari jauh-jauh en gak bakal ada kamusnya aku mau ngeliat muka orang yang kena cacar air.</p>
<p class="MsoNormal">Duh Tuhan, mungkin penyakit ini memang menyakitkan tapi kata orang ini juga membawa berkah buat aku. Karena gak perlu membayar vaksin mahal-mahal demi ngedapetin antibodinya, cukup menahan demam plus gatal en nyeri sendi serta menyediakan pasokan kepercayaan diri tingkat tak terbatas karena muka en kulit bopeng-bopeng gak karuan selama 2 – 3 minggu. Walhasil antibody cacar air pun bisa kita dapetin. Yah, namanya juga antibody mahal, mana ada yang gratis, harus ada pengorbanannya kan?heheheh.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi dari semua itu yang aku paling takutin justru karena penyakit ini jenis penyakit menular. Namanya aja virus Varisella Zoster. Apalagi penularannya bisa lewat udara, pernafasan, kena cairan yang melepuh dari bintil-bintilnya. Fiuh, gimana coba aku kan masih menyusui anakku. Meskipun dia dah 20 bulan en dah makan apa saja, tapi tetep asupan utamanya masih dari aku. Karena dia gak begitu suka susu formula. Yah, baru-baru ini aja dia mulai suka susu formula jenis UHT yang biasanya di botol-botol kecil atau kotak kardus kecil. Tapi tetep susu itu gak bisa menggantikan ASI di mulutnya. Meskipun sudah habis 2 kardus kecil susu UHT tetep kalau tahu ada aku lewat, pasti minta minum ASI juga. Apalagi kalau malam beneran gak bisa tidur tanpa ASI. Wong pernah dicoba dia dibiarin tidur sendiri tanpa ASI, pas tengah malem nangis jerit-jerit gak karuan liat ASInya gak ada di sebelahnya. Mending juga kalo dia mau ASI yang diperah, dia menganggap ASI itu ya yang langsung minum dari ibunya, selain itu bukan ASI.</p>
<p class="MsoNormal">So, dengan segala daya upaya dan kekuatan dari ibu yang berniat baik serta tulus demi hidup anaknya (walah,walah…)ya ahirnya tetep kasih ASI deh. Dengan berbekal masker, baju en celana panjang serta kerudung yang menutupi dada, tetep maju terus kasih ASI. Tentunya sambil terus komat kamit berdoa supaya anakku gak tertular penyakitku. Beneran Allah, pintaku plizzzz sembuhin aku secepatnya en jangan biarin seorang pun tertular penyakitku terutama my baby Bajramaya.Rasanya kangen banget cium anakku. Hiks, gara-gara cacar air berasa jauh ma dia. Kasihan juga kadang kalo ngeliat dia merasa tak sisihkan atau gak tak pedulikan. Padahal sunggung bukan itu Nak, maksud Emak. Emak hanya ingin menjaga Rama biar gak pernah tertular penyakit yang menyedihkan ini. Luph u my son.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aisyah.jilbaber.com/2010/02/04/didera-sakit-cacar-air-yang-tak-disangka-sangka/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Susahnya anakku makan nasi</title>
		<link>http://aisyah.jilbaber.com/2010/01/23/susahnya-anakku-makan-nasi/</link>
		<comments>http://aisyah.jilbaber.com/2010/01/23/susahnya-anakku-makan-nasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 09:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Putri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aisyah.jilbaber.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa ya begitu susahnya anakku makan nasi. Entahlah seperti momok saja nasi putih itu baginya. Makanan apapun masih mau dimakannya tapi tidak untuk nasi putih. Tapi jika nasi dibuat menjadi nasi goreng dia mau makan. Tapi ya tetap tidak sebanyak dia makan mie. Atau kentang goreng, atau bahkan juga singkong goreng. Waduuuuwww&#8230;.meskipun dia kurus kuakui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa ya begitu susahnya anakku makan nasi. Entahlah seperti momok saja nasi putih itu baginya. Makanan apapun masih mau dimakannya tapi tidak untuk nasi putih. Tapi jika nasi dibuat menjadi nasi goreng dia mau makan. Tapi ya tetap tidak sebanyak dia makan mie. Atau kentang goreng, atau bahkan juga singkong goreng. Waduuuuwww&#8230;.meskipun dia kurus kuakui ketahanan tubuhnya memang bagus. Karena mungkin begitulah hasil anak ASI Eksklusif. Tapi kayaknya dia lebih dari sekedar eksklusif ASInya. Sampai detik ini dia masih minum ASI, dan itulah satu2nya asupan makanan yang tak pernah ditolaknya sama sekali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aisyah.jilbaber.com/2010/01/23/susahnya-anakku-makan-nasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa cemaskah ibu hamil?</title>
		<link>http://aisyah.jilbaber.com/2010/01/05/72/</link>
		<comments>http://aisyah.jilbaber.com/2010/01/05/72/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 01:49:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Putri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<category><![CDATA[artikel bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aisyah.jilbaber.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Buat sapa aja wanita atau ibu yang sekarang sedang hamil trimester pertama, kedua atau ketiga, atau juga yang pernah hamil, atau yang sekarang sedang punya saudara, teman, atau tetangga yang lagi hamil, mohon bantuannya buat ngisi angketku tentang ibu hamil yah. Gak susah kok cukup disilang aja ngejawabnya en jawab berdasarkan pengalaman yang dirasain selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Buat sapa aja wanita atau ibu yang sekarang sedang hamil trimester pertama, kedua atau ketiga, atau juga yang pernah hamil, atau yang sekarang sedang punya saudara, teman, atau tetangga yang lagi hamil, mohon bantuannya buat ngisi angketku tentang ibu hamil yah. Gak susah kok cukup disilang aja ngejawabnya en jawab berdasarkan pengalaman yang dirasain selama masa kehamilan</p>
<p class="MsoNormal">Angketnya bisa didownload di <a title="skala   " href="http://download.any.web.id/616SKALA%20IBU%20HAMILversi%20word.doc">Skala</a><a title="Skala Ibu Hamil" href="http://download.any.web.id/616SKALA%20IBU%20HAMILversi%20word.doc">. </a>Untuk jawabannya bisa dikirimkan di emailku di utty@endonesa.net</p>
<p class="MsoNormal">Buat perhatian en bantuannya aku ucapin makasih banyak ya&#8230;.</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aisyah.jilbaber.com/2010/01/05/72/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>garap skripsi&#8230;..</title>
		<link>http://aisyah.jilbaber.com/2009/12/19/garap-skripsi/</link>
		<comments>http://aisyah.jilbaber.com/2009/12/19/garap-skripsi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 06:41:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Putri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aisyah.jilbaber.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[fiuh&#8230;hari-hari yang melelahkan. Beberapa hari ini mesti nyari 30 orang ibu hamil yang sedang hamil anak pertama en lagi trimester ketiga. Lumayan, bikin diri bercapek-capek ria, bermanis-manis ria buat dapetin orang yang ngisi skalaku. duh, moga segera dapet kekurannnya yah. aku dah dapet 12 orang neh, kurang 18 lagi. ayo semangat&#8230;..
pokoknya aku targetin desember ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>fiuh&#8230;hari-hari yang melelahkan. Beberapa hari ini mesti nyari 30 orang ibu hamil yang sedang hamil anak pertama en lagi trimester ketiga. Lumayan, bikin diri bercapek-capek ria, bermanis-manis ria buat dapetin orang yang ngisi skalaku. duh, moga segera dapet kekurannnya yah. aku dah dapet 12 orang neh, kurang 18 lagi. ayo semangat&#8230;..</p>
<p>pokoknya aku targetin desember ini dah dapet plus dah ngitung2. aku gak boleh menyerah. Tuhan, please help me yah&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aisyah.jilbaber.com/2009/12/19/garap-skripsi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>GANGGUAN JIWA YANG DIALAMI ANAK AKIBAT PERCERAIAN</title>
		<link>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/19/gangguan-jiwa-yang-dialami-anak-akibat-perceraian/</link>
		<comments>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/19/gangguan-jiwa-yang-dialami-anak-akibat-perceraian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 12:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Putri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aisyah.jilbaber.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[
Perceraian berhubungan dengan konsekuensi psikologi, emosional, ekonomi dan pisik. Anak-anak yang tinggal di lingkungan seperti itu benar-benar tidak belajar banyak mengenai harmoni dan apa yang dipertaruhkan untuk kebahagian dan hubungan yang sukses.
B.D. Schmitt, M.D. (1999) (dalam Nilakusmawati, 2008), mengungkapkan dampak perceraian terhadap anak berbeda menurut usia.
a. Anak Pra Sekolah &#8220;Preschool Child&#8221; ( 3 - 6 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} h2 	{mso-style-priority:9; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 2 Char"; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:2; 	font-size:18.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	font-weight:bold;} p 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.Heading2Char 	{mso-style-name:"Heading 2 Char"; 	mso-style-priority:9; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 2"; 	mso-ansi-font-size:18.0pt; 	mso-bidi-font-size:18.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-ascii-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:"Times New Roman"; 	font-weight:bold;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:154804559; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-4180754 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-ansi-font-weight:normal;} @list l1 	{mso-list-id:981495280; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1750854252 1051897450 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	color:black;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;}   --></p>
<p>Perceraian berhubungan dengan konsekuensi psikologi, emosional, ekonomi dan pisik. Anak-anak yang tinggal di lingkungan seperti itu benar-benar tidak belajar banyak mengenai harmoni dan apa yang dipertaruhkan untuk kebahagian dan hubungan yang sukses.</p>
<p>B.D. Schmitt, M.D. (1999) (dalam Nilakusmawati, 2008), mengungkapkan dampak perceraian terhadap anak berbeda menurut usia.</p>
<p>a. Anak Pra Sekolah &#8220;<em>Preschool Child</em>&#8221; ( 3 - 6 Tahun)</p>
<p>Anak pra sekolah cenderung memiliki keterbatasan dan kesalahan persepsi mengenai perceraian. Mereka memiliki sifat ego yang tinggi dan kaku mengenai hal benar dan salah. Karenanya ketika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, mereka biasanya menyalahkan diri mereka sendiri berdasarkan dugaan kelakuan yang tidak baik yang telah mereka lakukan. Anak usia ini seringkali menafsirkan kehadiran orang tua sebagai suatu penolakan personal, atau kekhawatiran bahwa mereka juga akan menjadi terbuang/terkorbankan. Pada tahap masa kecil ini juga sifat terbentuk oleh fantasi. Anak mungkin mengingkari kenyataan dan sangat mengharapkan orang tuanya bersatu kembali. Disamping itu, mereka pada umumnya kembali berkelakuan seperti bayi; menghisap jempol, ngompol, pemarah, melengket dgn selimut atau mainan favoritnya. Mereka secara umum menjadi takut terhadap sisi gelap dari sesuatu atau perpisahan dari sesuatu hal.</p>
<p>b. Usia Sekolah &#8220;<em>The Older School - Aged</em>&#8221; ( 6-9 Tahun)</p>
<p>Tingkah laku yang berhubungan dengan perceraian pada anak usia sekolah ( 6 - 9 tahun) , pada saat anak mencapai usia sekolah, mereka tidak lagi mengatasi dengan mengingkari realitas dari perceraian. Mereka sepenuhnya sadar menerima sakit dan kesedihan, benar-benar merindukan kerukunan kembali. Mereka cenderung memandang hidup dalam sisi hitam dan putih, dan cenderung menyalahkan salah satu dari orang tua sebagai penyebab perpisahan. Anak laki-laki khususnya berdukacita atas kehilangan ayahnya dan seringkali melimpahkan kemarahan pada ibunya.<span id="more-67"></span></p>
<p>c. Usia Sekolah (9 - 12 Tahun).</p>
<p>Pada anak usia sekolah (9 - 12 tahun), mereka biasanya bereaksi terhadap perceraian dengan kemarahan. Anak-anak kemungkinan menjadi sangat kritikal dan benci terhadap keputusan cerai orang tua mereka. Seperti anak usia sekolah, mereka mungkin selanjutnya menyalahkan kekakuan/kekerasan salah satu atau kedua orang tuanya, dan memperlihatkan rasa tidak suka mereka terhadap pasangan baru orang tua mereka. Mereka juga mungkin benci pada pengurus rumah tangga atau pengurus anak. Anak-anak pada usia tahap perkembangan tidak suka lebih menonjol diantara teman sebaya mereka dan umumnya merasa malu atau merasa telah tertimpa bencana karena perceraian.</p>
<p>Mereka cenderung mempunyai perhatian yang sangat praktis mengenai kehidupan keluarga hari demi hari, mereka khawatir mengenai keuangan keluarga dan apakah mereka merupakan sebuah aliran atas pendapatan orang tua mereka. Mereka juga memperoleh kemampuan untuk menegaskan dan khawatir mengenai bagaimana orang tua mereka menanggulanginya. Mereka mungkin menutupi perasaan mereka yang sebenarnya dengan menyibukkan diri dengan berbagai atau begitu banyak aktivitas.</p>
<p>Studi yang dilakukan oleh Judith S. Wallerstein dan Joan B. Kelly (1980) menyatakan bahwa 90% anak-anak yang kedua orang tua bercerai mengalami goncangan emosional ketika perceraian terjadi, rasa sedih yang sangat dalam dan perasaan khawatir. 50 % merasa ditolak dan terbuang, dan memang hal itu ditunjukkan oleh hampir setengah dari ayah mereka yang tidak pernah mengunjungi anak-anaknya selama tiga tahun setelah perceraian. Sepertiga dari anak laki-laki dan perempuan merasa takut terbuang oleh orang tua mereka dan 66% mengalami tahun-tahun tanpa orang tua. Sangat signifikan bahwa 37% anak-anak merasa lebih tidak bahagia setelah 5 tahun terjadi perceraian dari pada anak-anak yang orang tuanya telah mengalami perceraian selama 18 bulan. Dengan kata lain, waktu tidak dapat menyembuhkan luka mereka, sehingga orang tua cenderung menghindari perceraian sebagai pilihan tindak lanjut mengatasi perselingkuhan mengingat dampaknya terhadap masa depan anak.</p>
<p>Kita perlu menjadari bahwa jarang sekali pasangan yang hendak  bercerai itu, memiliki kehidupan yang tetap mesra, harmonis, penuh kasih. Sebaliknya pada berbulan-bulan sebelum hari perceraian tiba, pada umumnya kehidupan pasangan nikah berubah ada yang hingga  180 derajat. Mereka  tampak semakin tegang, diwarnai dengan berbagai konflik, percekcokan, ketidak harmonisan, perdebatan,  bahkan tidak jarang terjadi permusuhan dan kata-kata mesra berubah menjadi saling menghina bahkan juga saling merendahkan. Peristiwa sebelum perceraian sesunggunya sudah akan mengakibatkan berbagai masalah buruk  bagi anak-anak. Untuk itu mari kita melihat beberapa pengaruh buruk bagi anak, saat menjelang perceraian dan sesudah perceraian yang diambail dari sumber  <em>Dept of Family Relationship and human Development the Ohio State University.</em> <strong> (Sarjono, 2009)</strong></p>
<p><strong>Pengaruh buruk  pada masa tegang sebelum perceraian tiba terhadap gangguan jiwa pada anak</strong><strong></strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong> <strong>Confliked Loyalty. </strong></strong></p>
<p><strong>Membenci  dan mengasihi Salah satu orang Tua. </strong><strong></strong></p>
<p>Bila orang tua mulai bertengkar, anak biasanya akan membenci salah satu dari orang tua mereka: sebagai contoh  anak yang  lebih mencintai ibunya karena melihat yang menjadi korban adalah ibunya, selanjutnya dia akan membenci ayahnya.  Atau sebaliknya ia mencintai ayahnya dan membenci ibunya. Dan dalam situasi seperti ini pihak siapa yang lebih pandai memprofokasi anak dialah yang akan dicintai sang anak, dan pasanganya yang harus menderita kebencian dari sang anak, tanpa mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Loneliness. </strong></p>
<p>Dalam situasi yang penuh ketegangan itu, kadang-kadang anak sulit mengambil keputusan untuk  memihak atau memilih untuk membela salah satu antara papa atau mama. Dan situasi seperti ini menjadikan dia  korban yang merasa terhimpit diantara dua pilihan, peristiwa seperti ini membuat anak menjadi  merasa kesepihan, dan merasa ditinggalkan.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Anxiety and feeling of insecurity. Merasa Tidak Aman/ Cemas. </strong></p>
<p>Anak yang melihat konflik terjadi diantara orang tuanya, mereka mulai menderita  ketakutan dan kecemasan yang amat tinggi. Apalagi saat  mereka mendengar kata-kata cerai keluar dari bibir salah satu orang tuanya, ketakutan yang mencekam menghinggapi anak-anak ini. Menghadapi hal ini setiap anak menjadi sangat takut atau cemas. Perlu kita sadari  bahwa  setiap anak itu didalam lubuk hatinya takut berpisah dari orang tuanya, dan  mereka juga sangat takut  papa dan mamanya  berpisah. Karena hal ini akan menimbulkan kecemasan, dan ketakutan yang mendalam  didalam kehidupan mereka.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Feeling of rejection</strong><strong>.</strong></p>
<p>Anak merasa ditolak.  Pada saat orang tua bersitegang dan berkelahi  anak-anak akan diperhadapan pada satu pilihan, memihak atau memilih siapa yang di bela, siapa yang diikuti, dan dihormati  papa atau mama setelah perceraian terjadi, dan situasi sulit sepeti ini membuat mereka merasa serba salah  dan timbul perasan ditolak baik oleh salah satu maupun kadang-kadang  oleh kedua orang  tuanya.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pengaruh buruk Sesudah Perceraian Terjadi.</strong></p>
<p>Selanjutnya dalam kehidupan rumah tangga  yang  dipenuhi pertengkaran dan perkelahian, serta ketidak harmonisan dan perceraian, cepat atau lambat akan sangat mempengaruhi anak-anak mereka. Beberapa model anak yang  biasanya akan muncul  akibat korban perceraian orang tua, yaitu:  <strong></strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Anger, and feeling of rejection. </strong></p>
<p>Sebagian anak korban perceraian memiliki perilaku  nakal, tak terkendali, serta menjadi pemberontak dan  menimbulkan  berbagai masalah diluar rumah.  Hal seperti ini bisa terjadi antara lain disebabkan oleh: <strong></strong></p>
<p>a<em>.  <em>Adanya  pelampiasan dari rasa frustrasi</em>, </em>kemarahan dan perasaan ditolak yang dialaminya.</p>
<p><em>b. </em>Terlalu seringnya orang tua mempraktekan perkelaian, pertengkaran <em>dan anak mengadopsi prilaku buruk ini dalam melampiaskan  rasa frustrasinya. </em><em></em></p>
<p>c. Penyebab berikutnya adalah Anak <em>yang telah kehilangan rasa Aman, rasa tentram </em>dan penuh kedamaian yang selama ini dia alami.  Kini mereka menjadi kecewa dan marah kepada orang tua  yang berubah telah menciptakan rasa ketiadak amanan dalam diirinya.</p>
<p>d. <em>Bagi anak yang harus menderita dan tinggal dengan salah satu orang tua </em>akibat perceraian mereka juga telah kehilangan sosok ayah dan bisa juga sosok ibu yang seharusnya penuh kasih. Dan disinilah  berbagai letupan ketidak nyamanan dan ketidak amanan muncul dalam bentuk berbagai  kenakalan, dan ketidak patuhan, serta muncul rasa tidak begitu hormat kepada  kepada salah satu  orang tua yaitu  sang ibu atau sang ayah.</p>
<p>e.  <em>Anak kehilangan jatidirinya.</em> Status sebagai anak cerai yang harus disandang oleh anak-anak memberikan suatu perasaan  bahwa dia orang yang berbeda dari anak-anak lain dan dari sinilah perasaan ditolak semakin berkembang..</p>
<p>2.  <strong>Pervasive sense of loss and emptiness. </strong></p>
<p>Model anak yang kedua  adalah   <em>&#8220;Anak yang depresi, menutup diri dan  merasa diri hampa dan tak bermakna</em><strong>&#8220;.</strong> Sebagian besar  anak-anak takut  bila orang tua mereka bercerai. Perceraian orang tua bisa menggoncangkan jiwa anak-anak.  Salah satu penyebab timbulnya rasa hampa dan takutnya adalah: Mereka merasa takut masa depannya yang kini nyaman dan terjamin akan menjadi hancur berantakan.  Dan dari sinilah rasa frustari dan depresi  itu timbul.  Mereka  merasakan masa depannya akan suram dan hidup  begitu hampa dan tak bermakna. Maka sebagai akibatnya ada sebagian dari mereka  hidup  hanya untuk menuruti kehendak hatinya tanpa mengindahkan norma dan kaidah -norma di tengah masyarakat.</p>
<p>3. <strong>Model ketiga, Anak  Menjadi Penyelamat kuarga atau  menjadi semakin baik. </strong></p>
<p>Hal ini biasanya dilakukan, karena anak sangat mengasihi orang tuanya dan biasanya dilakukan oleh anak yang sudah agak dewasa. Sebagai anak ia mencoba selalu menutupi kejelekan  sifat kedua orang tuanya. Bahkan ada diantara mereka yang  berusaha untuk mendamaikan orang tuanya. <strong> </strong></p>
<h2>DAFTAR RUJUKAN</h2>
<p>Nilakusmawati, Desak Putu Eka, dkk. 2008. Perselingkuhan dan Perceraian (Suatu Kajian Persepsi Wanita)&#8211; <em>Adultery and Divorce (Study of Woman Perception</em>). (Online). (http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/selingkung%20nila%20matematika.pdf, diakses 18 November 2009)</p>
<p>Sarjono, Supriyono. 2009. <em>The Dissolutiion Of Marriage - Pengaruh Buruk Dari Perceraian</em>. (Online),(http://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id =651 :the-dissolutiion-of-marriage-pengaruh-buruk-dari-perceraian&amp;catid=43:rumah tangga &amp; Itemid =63, diakses 18 November 2009)</p>
<p>Wallerstein, Judith S. dan Joan B. Kelly, 1980. <em>Surviving the<br />
</em></p>
<p><em> Breakup</em>. Basic Books. New York .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/19/gangguan-jiwa-yang-dialami-anak-akibat-perceraian/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Buah Maja</title>
		<link>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/06/buah-maja/</link>
		<comments>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/06/buah-maja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 12:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Putri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[psikologi remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aisyah.jilbaber.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[ 
Maja ( Aegle marmelos (L.) Corr) merupakan  tanaman  tahunan dengan tinggi sekitar 10-15 meter. Pohon Maja memiliki batang berkayu, bulat, bercabang, berduri, berwarna putih kekuningan. Daun tersebar pada batang muda, lonjong, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi atau berlekuk, panjang 4-13,5 cm, lebar 2-3,5 cm, berwarna hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, panjang 1-1,5 cm, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE                                                     MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Maja ( Aegle marmelos (L.) Corr) merupakan  tanaman  tahunan dengan tinggi sekitar 10-15 meter. Pohon Maja memiliki batang berkayu, bulat, bercabang, berduri, berwarna putih kekuningan. Daun tersebar pada batang muda, lonjong, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi atau berlekuk, panjang 4-13,5 cm, lebar 2-3,5 cm, berwarna hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, panjang 1-1,5 cm, berwarna putih. Buah bentuk bola, diameter 5-12 cm, berdaging, berwarna cokelat. Bijinya pipih berwarna hitam (http://www.idionline.org/_05_infodk_ obattrad11.htm, diakses 19 Agustus 2007)</p>
<p>Pohon Maja tumbuh liar hutan kering (dry forest ) seperti di  bukit dan dataran  disebelah tengah dan selatan negara India dan Myanmar, Pakistan  Bangladesh. Pohon ini juga terdapat di Srilanka dan Malaya utara, serta area Pulau Jawa yang lebih kering. Tanaman Maja ini juga dapat tumbuh di lingkungan yang keras seperti suhu yang ekstrem, misalnya dari 49°C pada musim keinarau sampai -7°C pada musim dingin di Punjab (India). Bagian dari pohon Maja yang dapat digunakan adalah buah Maja (Aeglis marmelosi Fructus), daun Maja(Aeglis marmelosi Folium), kulit kayu, dan akar Maja(Aeglis marmelosi Radix).</p>
<p>.Buah Maja adalah buah-buahan jenis subtropis yang hidup di ketinggian 4,000 ft ( 1,200 m)  temperatur naik untuk 120º F ( 48.89º C) keteduhan di musim panas dan turun untuk 20º F (- 6.67º C) di musim dingin.Buah ini tidak terlalu populer di masyarakat karena memiliki rasa pahit, sehingga jarang ditemui di pasar-pasar tradisional maupun toko-toko yang menjual buah-buahan. Bahkan,   Buah Maja juga dijadikan legenda cerita tentang asal muasal nama Kerajaan Majapahit. Kandungan Kimia yang terdapat dalam buah Maja adalah Marmelosin, minyak atsiri, pektin, tanin, vitamin C, gula dan zat pati seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut ini:<!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE                                                     MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>Komposisi setiap 100 g bagian buah yang dapat dimakan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="1" cellpadding="0" width="198">
<tbody>
<tr>
<td>Water</td>
<td>54.96-61.5 g</td>
</tr>
<tr>
<td>Protein</td>
<td>1.8-2.62 g</td>
</tr>
<tr>
<td>Fat</td>
<td>0.2-0.39 g</td>
</tr>
<tr>
<td>Carbohydrates</td>
<td>28.11-31.8 g</td>
</tr>
<tr>
<td>Ash</td>
<td>1.04-1.7 g</td>
</tr>
<tr>
<td>Carotene</td>
<td>55 mg</td>
</tr>
<tr>
<td>Thiamine</td>
<td>0.13 mg</td>
</tr>
<tr>
<td>Riboflavin</td>
<td>1.19 mg</td>
</tr>
<tr>
<td>Niacin</td>
<td>1.1 mg</td>
</tr>
<tr>
<td>Ascorbic Acid</td>
<td>8-60 mg</td>
</tr>
<tr>
<td>Tartaric Acid</td>
<td>2.11 mg</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE                                                     MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--> <span id="more-65"></span></p>
<p><strong> </strong>Meninjau dari banyaknya manfaat  Buah Maja namun masih belum familiar di masyarakat, maka banyak alternatif yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan potensinya tersebut. Selain buah dan akar serta beberapa bagian lain buah Maja yang dapat digunakan untuk berbagai pengobatan dan makanan, bagian kulit buah Maja pun dapat didaya gunakan. Berbagai perlengkapan rumah tangga dapat dibuat dari kulit buah Maja yang memiliki struktur keras dan kuat ini.</p>
<p>Sementara ini untuk perlengkapan rumah tangga yang telah banyak dikembangkan adalah perlengkapan rumah tangga dari bahan batok kelapa, bambu, dan rotan. Kerajinan kulit buah Maja merupakan salah satu alternative baru dalam pengembangan kerajinan perlengkapan rumah tangga. Pemanfaatan kulit buah Maja yang selama ini tidak begitu diminati untuk dijadikan bisnis adalah peluang bisnis bagi  industri kecil dan industri rumah tangga.</p>
<p>Kelebihan Kulit buah Maja dibandingkan Bathok kelapa antara lain adalah bentuk buah Maja yang lebih besar sehingga lebih mudah untuk mengkreasikan menjadi berbagai macam bentuk. Hal ini akan mempengaruhi jumlah produksi barang yang dihasilkan dari kulit buah Maja dan juga akan mempengaruhi harga produksi menjadi lebih murah dengan tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Di pasaran, harga jual kerajinan tangan dari bathok kelapa berkisar antara Rp 7.500 sampai dengan Rp 1.500.000 setiap produknya. Aneka produk yang dihasilkan tersebut antara lain : kap lampu, file holder, place mate, pigura, tempat lilin, box tissu, westebin (tempat sampah) dan lain-lain (http://bantulbiz.com/id/ bizpage_perajin/id-42.html). Sedangkan kisaran harga jual barang kerajinan buah Maja minimal Rp 6.500 untuk produk-produk seperti pigura, pot bunga, gantungan kunci dan lain-lain. Selain itu, harga jual dapat menjadi lebih tinggi sesuai dengan ukuran produk dan tingkat kerumitan dalam proses produksi. Contohnya adalah produk berupa kap lampu, tempat tisu, tempat sampah, dan lain-lain.</p>
<p>Barang kerajinan sendiri merupakan salah satu produk ekspor andalan Indonesia dan masih banyak potensi kerajinan Indonesia yang masih bisa dikembangkan. Komoditi barang kerajinan yang banyak diminati pasaran lokal  maupun untuk ekspor adalah kerajinan kayu, tembaga, logam, kulit, perabot rumah tangga dan boneka. Sehingga, masih dimungkinkan peluang untuk memanfaatkan buah Maja sebagai usaha altenatif <em>home indutry</em><strong>.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/06/buah-maja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gangguan Kecemasan pada Wanita Hamil  Trimester Ketiga</title>
		<link>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/06/gangguan-kecemasan-pada-wanita-hamil-trimester-ketiga/</link>
		<comments>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/06/gangguan-kecemasan-pada-wanita-hamil-trimester-ketiga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 12:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Putri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aisyah.jilbaber.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[ Melahirkan memang suatu proses yang alami dan menimbulkan rasa sakit. Namun banyak wanita yang merasakan sakit tersebut lebih parah dari seharusnya karena banyak dipengaruhi oleh rasa panik dan stress. Hal ini disebut fear-tension-pain concept (takut-tegang-sakit), dimana rasa takut menimbulkan ketegangan atau kepanikan yang menyebabkan otot - otot menjadi kaku dan akhirnya menyebabkan rasa sakit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]-->Melahirkan memang suatu proses yang alami dan menimbulkan rasa sakit. Namun banyak wanita yang merasakan sakit tersebut lebih parah dari seharusnya karena banyak dipengaruhi oleh rasa panik dan stress. Hal ini disebut fear-tension-pain concept (takut-tegang-sakit), dimana rasa takut menimbulkan ketegangan atau kepanikan yang menyebabkan otot - otot menjadi kaku dan akhirnya menyebabkan rasa sakit (Hypno-birthing, 2006).  Priest (1994) menyatakan bahwa &#8220;Salah satu sumber kecemasan adalah kehamilan&#8221;. Kehamilan merupakan suatu periode kritis dalam kehidupan seorang wanita. Hal ini sesuai dengan pernyataan  bahwa &#8220;Salah satu periode kritis dalam kehidupan seorang wanita adalah saat ia hamil&#8221; (Dagun, 1990).  Menurut Mochtar, R (1998:179) (dalam Anggra, 2008) ketakutan ibu menghadapi persalinan terutama primigravida, berkaitan dengan emosi ibu yang berpengaruh pada proses persalinan. Kecemasan persalinan pertama merupakan perasaan atau kondisi psikologis yang tidak menyenangkan dikarenakan adanya perubahan fisiologis yang menyebabkan ketidakstabilan kondisi psikologis. Hal ini berkaitan dengan pengalaman baru yang dialami ibu hamil serta masih terbatasnya pengetahuan tentang kehamilan.<span id="more-61"></span> <strong> </strong> <strong>A. Pengertian Kecemasan</strong></p>
<p>Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya &#8220;<em>anxiety&#8221; </em>berasal dari Bahasa Latin <em>&#8220;angustus&#8221; </em>yang berarti kaku, dan <em>&#8220;ango, anci&#8221; </em>yang berarti mencekik.  <strong> </strong>Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005:28) mengatakan bahwa kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai.. Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi sinyal kepada kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan.  Perbedaan intensitas kecemasan tergantung pada  keseriusan ancaman dan efekivitas dari operasi-operasi keamanan yang dimiliki seseorang. Mulai munculnya perasaan-perasaan tertekan, tidak berdaya akan muncul apabila orang tidak siap menghadapi ancaman. Perasaan yang tidak menyenangkan tersebut umumnya menimbulkan gejala-gejala fisiologis (seperti gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat, dan lain-lain) dan gejala psikologis (seperti panik, tegang, bingung, tak dapat berkonsentrasi, dan sebagainya).  Gangguan kecemasan tipe menyeluruh atau <em>Generalized Anxiety Disorder</em> ditandai oleh kekhawatiran yang berlebihan tentang kehidupan sehari-hari, kejadian-kejadian tentang kehidupan seharihari, dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.  Menurut Dagun, (1990) faktor-faktor penyebab kecemasan pada ibu hamil diantaranya adalah perubahan-perubahan baik secara fisik maupun psikologis selama tiga trimester  Menurut Dagun, (1990) pada fase ketiga seluruh tubuh ibu hamil akan membengkak dan pertambahan berat badan seluruhnya dapat mencapai belasan kilogram selama akhir kehamilan.  Bertambahnya berat badan ketika hamil akan menimbulkan kecemasan tentang kondisi fisik ibu hamil ketika melahirkan nanti. Ibu hamil akan merasa cepat pusing, capek, karena pertambahan berat badannya. Hal tersebut akan mempengaruhi proses persalinan yang membutuhkan kondisi fisik yang sehat dan stamina yang kuat.</p>
<p><strong>B. Sebab-sebab Kecemasan yang dialami Ibu Hamil : </strong> <strong> </strong> <strong></strong></p>
<p><strong>1. Perubahan-perubahan fisik selama tiga trimester</strong></p>
<p>Kehamilan dapat dibagi menjadi 3 trimester yaitu trimester 1, trimester 2, dan trimester 3, pada tiap trimester tersebut wanita hamil akan mengalami perubahan-perubahan fisik. Perubahan fisik tersebut dapat menimbulkan kecemasan. Kecemasan terhadap perubahan fisik pada trimester 1 yaitu mual-mual, muntah-muntah, pusing, cepat lelah dan capek. Sedangkan perubahan psikologisnya adalah wanita hamil mudah marah, mudah tersinggung, dan sebagainya pada trimester 1 wanita hamil lebih cemas dan takut akan keguguran. Hal ini dikarenakan pada fase ini perkembangan bayi belum terlihat jelas dan lemah.  Pada trimester ke-2 ibu hamil biasanya sudah bisa menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada trimester 1. Ibu hamil pada trimester ke-2 mulai merasakan adanya gerakan janin di dalam perutnya. Apabila wanita hamil tidak dapat merasakan gerakan-gerakan bayi dalam kandungannya maka akan muncul kecemasana. Kecemasan ini berasal dari ketakutan ibu hamil akan berkembangnya janin yang ada di dalam perutnya. Apakah bayi yang ada di dalam kandungannya masih hidup atau mengalami suatu gangguan. Pada wajah ibu hamil juga akan muncul bercak kecoklatan pada kulit hidung dan pipi. Wanita hamil yang selalu memperhatikan kecantikan wajahnya akan merasa cemas dengan kecantikannya.  Pada trimester ke-3 kecemasan akan kembali muncul ketika akan mendekati proses persalinan. Ibu hamul akan ditakuti oleh kesakitan yang luar biasa ketika akan melahirkan bahkan resiko kematian. Hal ini disebabkan wanita hamil sering mendengarkan cerita-cerita, baik dari tetangga mabupun ibu-ibu yang pernah melahirkan. Apakah ia bisa melakukan proses mengejan dengan baik agar proses persalinan berlangsung dengan lancar. Jika wanita hamil lemah, maka akan mempersulit proses melahirkan nanti.</p>
<p><strong>2. Pengalaman emosional ibu hamil</strong></p>
<p>Kecemasan dapat timbul ketika individu menghadapi pengalamana-pengalaman baru. Wanita hamil yang pertama kali hamil akan lebih merasa cemas dibandingkan dengan wanita hamil yang sudah pernah melahirkan. Hal ini didasarkan bahwa &#8220;Cemas dapat timbul ketika individu menghadapi pengalaman-pengalaman baru seperti masuk sekolah, memulai pekerjaan baru, atau melahirkan bayi&#8221;.(Stuart &amp; Sundeen, 1993).  Wanita hamil akan belajar dari pengalaman-pengalaman emosionalnya selama menjalani kehamilan. Apabila wanita hamil merasa terancam maka akan menimbulkan kecemasan. Kecemasan sebagai suatu emosi yang muncul dari pengalaman subyektif individu. Tiap individu mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda sehingga antara individu yang satu dengan individu yang lainnya tidak sama dalam menyikapi kecemasannya. Individu yang mengetahui penyebab sumber kecemasannya akan lebih mudah untuk menghadapi kecemasan terutama pada ibu hamil.  <strong></strong></p>
<p><strong>3. Situasi-situasi yang mengancam ibu hamil</strong></p>
<p>Situasi yang mengancam ibu hamil meliputi ancaman fisik, ancaman terhadap harga diri, dan tekanan untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan. Individu yang merasa pada suatu kondisi yang tidak jelas akan menimbulkan cemas. Contohnya; khawatir akan kehilangan orang yang kita cintai, perasaan-perasaan bersalah dan berdosa yang bertentangan dengan hati nurani, dan sebagainya. Situasi kecemasan tersebut biasanya dialami oleh wanita yang menjalani kehamilan dan persalinan. Hal ini menandakan bahwa kebutuhan akan rasa aman sangat diperlukan ketika rasa gelisah dan rasa takut muncul pada ibu hamil. Ibu hamil akan sangat cepat mengenali diri dan bayinya jika ia berada dalam situasi-situasi seperti keguguran atau cemas terhadap dirinya yang mengidap penyakit berbahaya bagi calon bayi.  <strong></strong></p>
<p><strong>C. Gejala-gejala kecemasan pada ibu hamil</strong></p>
<p>Menurut Blackburn, (1990), gejala-gejala kecemasan pada ibu hamil meliputi 3 aspek, yaitu : gejala fisik, psikologis dan sosial. Gejala fisik meliputi telapak tangan basah, tekanan darah meninggi, badan gemetar, denyut jantung meningkat dan keluarnya keringat dingin. Perubahan fisik yang terjadi pada ibu hamil contohnya muncul jerawat, varises, noda juga dapat menimbulkan kecemasan. Hal ini akan mengurangi kecantikan wajah pada ibu hamil. Perubahan yang terjadi ketika hamil yang lain adalah mudah lelah, badan terasa tidak nyaman, tidak bisa tidur nyenyak, sering kesulitan bernafas, dan lain-lain. Perubahan-perubahan tersebut berbeda-beda intensitasnya pada masing-masing ibu hamil. Ada ibu hamil yang intensitas kecemasannya lebih tinggi, adapula yang intensitas kecemasannya lebih rendah. Kecemasan merupakan reaksi psikologis yang wajar pada ibu hamil, jika ibu hamil dapat mengatasi kecemasannya maka ia akan dapat menikmati tahapan kehamilannya dengan lebih nyaman dan tenang.  Secara psikologis, kecemasan dapat meningkatkan kerja dari sistem syaraf yang mengatur pelepasan hormon tertentu. Akibat pelepasan hormon tersebut, muncullah perangsangan pada organ-organ, seperti lambung, jantung, pembuluh darah maupun fisiologis tubuh lainnya. Kecemasan yang ditimbulkan secara psikologis juga dikarenakan ketidakmampuan individu dalam mengidentifikasi ancaman yang datang sehingga muncul gejala-gejala seperti marah-marah, takut, perasaan tidak menentu, serta ketidakmampuan mengendalikan pikiran buruk.  Ada dua hal yang menyebabkan kecemasan pada ibu hamil yaitu perasaan takut dan penolakan ibu terhadap kehamilannya. Perasaan takut yang dirasakan oleh ibu hamil lebih didasarkan pada perubahan besar yang terjadi pada tubuhnya. Penolakan ibu terhadap kehamilannya lebih didasarkan pada calon ibu tersebut tidak menikah atau karena kesulitan ekonomi sehingga dengan hadirnya anak dapat memberatkan ekonomi keluarga (Sastrawinata, 1983).  Kecemasan  dalam ruang lingkup sosial dapat dilihat dari situasi, kondisi dan obyek tertentu misalnya individu cemas ketika memperlihatkan diri di depan umum. Keadaan ini terutama terjadi pada individu yang pemalu, penakut, merasa tidak tentram, dan cemas bila berkumpul dengan orang-orang yang masih asing dengannya. Pada ibu hamil biasanya kepercayaan tradisional yang dianut dalam suatu daerah akan berpengaruh terhadap pola pikirnya sehingga akan menimbulkan kecemasan tersendiri. Sikap yang kurang menyenangkan di pihak orang-orang yang berarti sikap yang kurang menyenangkan dari lingkungan juga menimbulkan efek yang mendalam bagi kondisi mental ibu hamil. Misalnya orang tua yang tidak menghendaki kelahiran karena takut mengganggu program pendidikan dan pekerjaan.  Hasil studi tentang psikologi kehamilan membuktikan bahwa fenomena kecemasan yang berhubungan dengan kehamilan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang merupakan beban ekstra yang dapat berasal dari dalam tubuh sendiri maupun dari kejadian diluar tubuh. Menurut Notosoedirjo (1996) (dalam Mulyata, 1999) apabila ibu hamil tidak mampu beradaptasi dengan beban ekstra tersebut, akan mengalami kecemasan.  Berikut disajikan beberapa faktor yang dikumpulkan oleh Niven (1992) (dalam Mulyata, 1999) yang mempunyai pengaruh negatif terhadap kehamilan, sebagai berikut:</p>
<p>1.      Stresfull life events, termasuk suami kehilangan pekerjaan, suami  menganggur, masalah perumahan, suami selingkuh, adanya anggota keluarga yang sakit keras.</p>
<p>2.      Adanya masalah dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari seperti  masalah finansial, hilangnya aset keluarga, kegagalan dalam business, hilangnya dukungan sosial dari pihak tertentu.</p>
<p>3.      Pengalaman keguguran, bayi lahir mati, bayi lahir imatur, prematur,  bayi lahir cacat, pernah mengalami kondisi yang mengancam jiwa.</p>
<p>4.      Adanya riwayat infertilitas disertai berbagai usaha sehingga berhasil hamil.  5. Pernah menderita penyakit jiwa  <strong></strong></p>
<p><strong>D. Sumber-sumber Kecemasan pada Ibu Hamil</strong></p>
<p><strong> </strong>Sumber-sumber kecemasan pada ibu hamil meliputi kecemasan realitas, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral. Kecemasan realitas merupakan kecemasan atau takut akan bahaya-bahaya nyata di dunia luar seperti takut mati, trauma kelahiran, perasaan berdosa dan sebagainya. Kecemasan realitas yang dialami oleh ibu hamil adalah ketakutan akan kesehatan bayi yang dikandungnya, takut bayi yang dilahirkannya bernasib jelek/buruk, takut tidak diterimanya bayi oleh suami dan keluarga, takut akan ditinggalkan suami sesudah ia menjalani prose persalinan karena karena bentuk tubuh yang telah berubah. Hal ini dapat menyebabkan ibu hamil merasa tidak percaya diri dalam melewati masa kehamilan dan kelahiran.  Kecemasan neurotik adalah kecemasan terhadap tidak terkendalinya naluri yang menyebabkan sesorang melakukan tindakan yang bisa mendatangkan hukuman. Kecemasan jenis ini merupakan rasa cemas terhadap penyakit yang dialami dan dirasakan ketika hamil. Kecemasan neurotik ini biasanya takut melihat darah, serangga, binatang-binatang kecil atau tempat yang tinggi dan orang banyak. Penyakit ini sejenis dengan penyakit <em>fobia.</em> Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nurani, rasa berdosa apabila individu melakukan atau berfikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma. Perasaan bersalah dan berdosa yang dialami oleh ibu hamil adalah hamil di luar nikah, pernikahan yang tidak direstui oleh keluarga dan ketiadaan suami/keluarga pada saat hamil dan melahirkan. Hal ini muncul karena individu tersebut melakukan hubungan yang dianggap bertentangan dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat.</p>
<p><strong>E. Status Ibu Hamil dalam Keluarga dan Komunitas</strong></p>
<p>Faktor penentu kecemasan yang terjadi pada ibu hamil dapat dilihat dari status wanita dalam keluarga dan komunitas misalnya pendidikan, pekerjaan, penghasilan, status sosial. Hal itu meliputi penghasilan keluarga, tempat tinggal, pendidikan, kondisi lingkungan, sarana pelayanan kesehatan, status gizi ibu, infeksi, penyakit kronis serta riwayat <em>obsetric. </em>Ibu hamil yang memiliki tingkat pendidikan serta status sosial yang rendah tidak merasa cemas. Hal ini dikarenakan kehamilan merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada wanita yang produktif, tetapi ketidaktahuan mereka akan perilaku-perilaku, informasi-informasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi akan menimbulkan kecemasan tersendiri.  Cemas dapat mempengaruhi kontraksi urine ketika melahirkan. Proses kelahiran akan berlangsung lebih lama  daripada yang normal dan kemungkinan terjadi komplikasi lebih besar karena bayi seringkali harus dilahirkan dengan menggunakan alat. Cemas juga akan mempengaruhi kondisi anak yang sedang mengalami pertumbuhan di dalam kandungan. Hurlock (1994) menjelaskan rasa khawatir, cemas sering mengakibatkan banyak makan, pertambahan berat badan yang berlebihan dalam kehamilan. Apabila tekanan yang dialami wanita mengakibatkan peningkatan kegiatan janin yang berlebihan maka akan terjadi kekurangan berat badan dan kegelisahan sedemikian rupa sehingga penyesuaian awal setelah melahirkan akan sangat terpengaruh.  Jenis pekerjaan tertentu juga cenderung lebih berbahaya apabila dilakukan secara terus menerus oleh ibu hamil, misalnya bekerja di Rumah Sakit, salon kecantikan atau pabrik dapat memperbesar jumlah kelahiran cacat atau keguguran. Hal ini didasarkan pada Hurlock, (1994) bahwa kekhawatiran akan bahaya kimia atau bahaya lain yang dihadapi wanita hamil yang bekerja di tempat-tempat seperti Rumah Sakit, pabrik, salon kecantikan, dan lain-lain.  Kehamilan dengan kecemasan yang tinggi akan mengakibatkan ibu hamil memiliki resiko tinggi untuk keguguran, persalinan yang lama serta kelahiran secara prematur. Kecemasan yang tinggi ketika hamil juga dapat menyebabkan anak yang dilahirkan menjadi hiperaktif dan sukar mengendalikan emosi. Kondisi emosional gizi yang buruk saat hamil, rendahnya asupan gizi yang dikonsumsi ibu hamil akan dapat menyebabkan kematian ibu hamil</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>DAFTAR RUJUKAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong> <cite>Alwisol. 2005. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press </cite><cite></cite> <cite> </cite> Anggra. 2008. <em>Materi Persalinan Fisiologis, </em>(Online). (http://boomcek.blogspot.com /2008/12/materi-persalinan-fisiologis.html<span style="text-decoration: underline">,</span> diakses <strong>1 November 2009</strong>)  <cite> </cite></p>
<p>Blackburn, M. Ivy &amp; Davidson, Kate. 1990. <em>Terapi Kognitif, Depresi &amp; Kecemasan. </em>Terjemahan oleh Rusda kota Sutadi. 1990. Semarang: IKIP Semarang Press.  <strong> </strong></p>
<p>Dagun, Save M. 1990. <em>Psikologi Keluarga. </em>Jakarta: Rineka Cipta  Hurlock, Elizabeth B. 1994. <em>Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. </em>Jakarta: Erlangga  <cite> </cite> <cite></cite></p>
<p><cite>Mulyata, ST. 1999. </cite><strong><em>Paket Penyuluhan dan Senam Hamil Mengurangi Stres dan Nyeri Serta Mempercepat Penyembuhan Luka Persalinan. </em></strong><strong>(Online), (http://www.uns.ac.id/cp/penelitian.php?act=det&amp;idA=271, diakses 1 November 2009)</strong><strong></strong></p>
<p>Priest, R. 1994. <em>Stress dan Depresi. </em>Semarang: Dahari Press</p>
<p><strong> </strong> <em>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;. </em>2006.<em> Relaksasi Kehamilan, </em>(Online). (<span style="text-decoration: underline">http://www.hypno-birthing.web.id/?page_id=2</span>, diakses 1 November 2009)</p>
<p><strong> </strong> Sastrawinata, Sulaiman. 1983. <em>Obsetri Fisiologi. </em>Bandung: Fak. Padjajaran Bandung</p>
<p>Sundeen &amp; Stuart. 1993. <em>Psychiatry Nursing. </em>American: Nurses Association  <strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/06/gangguan-kecemasan-pada-wanita-hamil-trimester-ketiga/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Psikologi Bencana</title>
		<link>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/06/psikologi-bencana/</link>
		<comments>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/06/psikologi-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 11:43:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Putri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[psikologi umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aisyah.jilbaber.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[ 
Bencana adalah gangguan serius terhadap fungsi masyarakat yang menyebabkan kehilang dalam jumlah besar (manusia, harta, lingkungan) yang melebihi kemampuan masyarakat itu menanggulangi dengan kemampuan sendiri.
Ada 3 macam bencana:
1.      Bencana alam , contoh: gempa, banjir, longsor, tsunami, dll
2.      Bencana manusia, contoh: kecelakaan transportasi, dll
3.      Bencana teknologi, contoh: Chernobyle, Lapindo, dll
Durasi dan ukuran bencana:
1)      Spontan, unpredictable, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE                                                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} --> <!--[endif]--></p>
<p>Bencana adalah gangguan serius terhadap fungsi masyarakat yang menyebabkan kehilang dalam jumlah besar (manusia, harta, lingkungan) yang melebihi kemampuan masyarakat itu menanggulangi dengan kemampuan sendiri.</p>
<p>Ada 3 macam bencana:</p>
<p>1.      Bencana alam , contoh: gempa, banjir, longsor, tsunami, dll</p>
<p>2.      Bencana manusia, contoh: kecelakaan transportasi, dll</p>
<p>3.      Bencana teknologi, contoh: Chernobyle, Lapindo, dll</p>
<p>Durasi dan ukuran bencana:</p>
<p>1)      Spontan, unpredictable, efeknya besar</p>
<p>Contoh : gempa bumi</p>
<p>2)      Predictable, periodik</p>
<p>Contoh: Badai Katrina, Badai Pasir, Perubahan Cuaca</p>
<p>3)      Lama dengan efek panjang</p>
<p>Contoh: Chernobyle</p>
<p>4)      Singkat dengan efek lama</p>
<p>Contoh: kecelakaan</p>
<p>Fase respon orang-orang yang menghadapi bencana:</p>
<p>a) Peringatan               : - Bencana predictable, semakin dini pemberitahuan semakin</p>
<p>banyak persiapan</p>
<p>- Adanya Antisipasi dan persiapan</p>
<p>b) Heroik                     : - Ketika bencana terjadi, korban menerima bantuan, sikapnya</p>
<p>apresiatif (menerima) terhadap bantuan</p>
<p>c) Bulan madu                : - Orang yang membantu dan dibantu mulai mengolah bersama-sama untuk</p>
<p>memulihkan trauma bencana</p>
<p>d) Rekontruksi               :  Menerima dan memperbaiki hidup<span id="more-59"></span></p>
<p>Reaksi manusia dalam keadaan darurat :</p>
<p>-          Fokus reaksinya adalah kebutuhan bertahan hidup dan tidak membiarkan diri merasakan emosi.    Karena itu beberapa orang butuh beberapa waktu yang lama untuk kembali situasi psikologi normal. Masing-masing orang juga akan bereaksi berbeda sesuai dengan pembawaannya.</p>
<p>Intensitas dan jenis respon bervariasi, tergantung pada:</p>
<p>a)      Pengalaman sebelumnya</p>
<p>b)      Besarnya kerusakan akibat bencana</p>
<p>c)      Kekuatan emosi - Coping - Atribusi</p>
<p>d)     Lamanya waktu sebelum bantuan datang</p>
<p>Reaksi perilaku korban bencana :</p>
<p>a) Melawan        : Langsung menangani situasi dan problem, korban dapat agresif dan tidak pikir panjang</p>
<p>b) Menghindar   : Menjauhkan diri dari penyebab tekanan, kelur dari rasa tidak nyaman, lari dari masalah</p>
<p>c) Membeku       : Tidak bereaksi, menunggu waktu untuk mendapatkan bantuan, pasif dalam situasi yang memerlukan bantuan.</p>
<p>Tahap emosi pasca bencana :</p>
<p>1) Tahap impact        : Tidak panik, tidak emosi, melakukan apa yang harus dilakukan</p>
<p>2) Tahap inventory    : menilai kerusakan, mencari yang selamat</p>
<p>3) Tahap rescue         : mempercayai penyelamat/bantuan</p>
<p>4) Tahap recovery    : menyadari keterbatasan bantuan, menarik diri dari pemberian bantuan</p>
<p>Hal-hal yang bisa kita lakukan untuk membantu korban bencana :</p>
<p>a)      membina hubungan, berbicara dengan korban selamat</p>
<p>b)      mendengarkan</p>
<p>c)      empati; penyelamat memperhatikan kekhawatiran atau ketakutan korban</p>
<p>d)     Assurance; memastikan bahwa korban aman</p>
<p>Intervensi non emosi :</p>
<p>a)      menyediakan kebutuhan dasar</p>
<p>b)      memberi informasi keluarga yang selamat</p>
<p>c)      perawatan luka fisik</p>
<p>d)     penyediaan pendidikan</p>
<p>e)      bantuan spiritual</p>
<p>f)       bantuan tempat tinggal</p>
<p>Bagaimana berkomunikasi dengan korban bencana:</p>
<p>1)      beri kesempatan, biarkan dulu jika korban membisu</p>
<p>2)      bahasa non verbal, seperti tepukan bahu, anggukan kepala, kontak mata</p>
<p>3)      beri kesempatan korban mengungkap emosinya</p>
<p>4)      beri umpan balik kata-kata pada korban</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aisyah.jilbaber.com/2009/11/06/psikologi-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
