GANGGUAN JIWA YANG DIALAMI ANAK AKIBAT PERCERAIAN

Perceraian berhubungan dengan konsekuensi psikologi, emosional, ekonomi dan pisik. Anak-anak yang tinggal di lingkungan seperti itu benar-benar tidak belajar banyak mengenai harmoni dan apa yang dipertaruhkan untuk kebahagian dan hubungan yang sukses.

B.D. Schmitt, M.D. (1999) (dalam Nilakusmawati, 2008), mengungkapkan dampak perceraian terhadap anak berbeda menurut usia.

a. Anak Pra Sekolah “Preschool Child” ( 3 - 6 Tahun)

Anak pra sekolah cenderung memiliki keterbatasan dan kesalahan persepsi mengenai perceraian. Mereka memiliki sifat ego yang tinggi dan kaku mengenai hal benar dan salah. Karenanya ketika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, mereka biasanya menyalahkan diri mereka sendiri berdasarkan dugaan kelakuan yang tidak baik yang telah mereka lakukan. Anak usia ini seringkali menafsirkan kehadiran orang tua sebagai suatu penolakan personal, atau kekhawatiran bahwa mereka juga akan menjadi terbuang/terkorbankan. Pada tahap masa kecil ini juga sifat terbentuk oleh fantasi. Anak mungkin mengingkari kenyataan dan sangat mengharapkan orang tuanya bersatu kembali. Disamping itu, mereka pada umumnya kembali berkelakuan seperti bayi; menghisap jempol, ngompol, pemarah, melengket dgn selimut atau mainan favoritnya. Mereka secara umum menjadi takut terhadap sisi gelap dari sesuatu atau perpisahan dari sesuatu hal.

b. Usia Sekolah “The Older School - Aged” ( 6-9 Tahun)

Tingkah laku yang berhubungan dengan perceraian pada anak usia sekolah ( 6 - 9 tahun) , pada saat anak mencapai usia sekolah, mereka tidak lagi mengatasi dengan mengingkari realitas dari perceraian. Mereka sepenuhnya sadar menerima sakit dan kesedihan, benar-benar merindukan kerukunan kembali. Mereka cenderung memandang hidup dalam sisi hitam dan putih, dan cenderung menyalahkan salah satu dari orang tua sebagai penyebab perpisahan. Anak laki-laki khususnya berdukacita atas kehilangan ayahnya dan seringkali melimpahkan kemarahan pada ibunya.

c. Usia Sekolah (9 - 12 Tahun).

Pada anak usia sekolah (9 - 12 tahun), mereka biasanya bereaksi terhadap perceraian dengan kemarahan. Anak-anak kemungkinan menjadi sangat kritikal dan benci terhadap keputusan cerai orang tua mereka. Seperti anak usia sekolah, mereka mungkin selanjutnya menyalahkan kekakuan/kekerasan salah satu atau kedua orang tuanya, dan memperlihatkan rasa tidak suka mereka terhadap pasangan baru orang tua mereka. Mereka juga mungkin benci pada pengurus rumah tangga atau pengurus anak. Anak-anak pada usia tahap perkembangan tidak suka lebih menonjol diantara teman sebaya mereka dan umumnya merasa malu atau merasa telah tertimpa bencana karena perceraian.

Mereka cenderung mempunyai perhatian yang sangat praktis mengenai kehidupan keluarga hari demi hari, mereka khawatir mengenai keuangan keluarga dan apakah mereka merupakan sebuah aliran atas pendapatan orang tua mereka. Mereka juga memperoleh kemampuan untuk menegaskan dan khawatir mengenai bagaimana orang tua mereka menanggulanginya. Mereka mungkin menutupi perasaan mereka yang sebenarnya dengan menyibukkan diri dengan berbagai atau begitu banyak aktivitas.

Studi yang dilakukan oleh Judith S. Wallerstein dan Joan B. Kelly (1980) menyatakan bahwa 90% anak-anak yang kedua orang tua bercerai mengalami goncangan emosional ketika perceraian terjadi, rasa sedih yang sangat dalam dan perasaan khawatir. 50 % merasa ditolak dan terbuang, dan memang hal itu ditunjukkan oleh hampir setengah dari ayah mereka yang tidak pernah mengunjungi anak-anaknya selama tiga tahun setelah perceraian. Sepertiga dari anak laki-laki dan perempuan merasa takut terbuang oleh orang tua mereka dan 66% mengalami tahun-tahun tanpa orang tua. Sangat signifikan bahwa 37% anak-anak merasa lebih tidak bahagia setelah 5 tahun terjadi perceraian dari pada anak-anak yang orang tuanya telah mengalami perceraian selama 18 bulan. Dengan kata lain, waktu tidak dapat menyembuhkan luka mereka, sehingga orang tua cenderung menghindari perceraian sebagai pilihan tindak lanjut mengatasi perselingkuhan mengingat dampaknya terhadap masa depan anak.

Kita perlu menjadari bahwa jarang sekali pasangan yang hendak  bercerai itu, memiliki kehidupan yang tetap mesra, harmonis, penuh kasih. Sebaliknya pada berbulan-bulan sebelum hari perceraian tiba, pada umumnya kehidupan pasangan nikah berubah ada yang hingga  180 derajat. Mereka  tampak semakin tegang, diwarnai dengan berbagai konflik, percekcokan, ketidak harmonisan, perdebatan,  bahkan tidak jarang terjadi permusuhan dan kata-kata mesra berubah menjadi saling menghina bahkan juga saling merendahkan. Peristiwa sebelum perceraian sesunggunya sudah akan mengakibatkan berbagai masalah buruk  bagi anak-anak. Untuk itu mari kita melihat beberapa pengaruh buruk bagi anak, saat menjelang perceraian dan sesudah perceraian yang diambail dari sumber  Dept of Family Relationship and human Development the Ohio State University. (Sarjono, 2009)

Pengaruh buruk  pada masa tegang sebelum perceraian tiba terhadap gangguan jiwa pada anak

1. Confliked Loyalty.

Membenci  dan mengasihi Salah satu orang Tua.

Bila orang tua mulai bertengkar, anak biasanya akan membenci salah satu dari orang tua mereka: sebagai contoh  anak yang  lebih mencintai ibunya karena melihat yang menjadi korban adalah ibunya, selanjutnya dia akan membenci ayahnya.  Atau sebaliknya ia mencintai ayahnya dan membenci ibunya. Dan dalam situasi seperti ini pihak siapa yang lebih pandai memprofokasi anak dialah yang akan dicintai sang anak, dan pasanganya yang harus menderita kebencian dari sang anak, tanpa mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya.

2. Loneliness.

Dalam situasi yang penuh ketegangan itu, kadang-kadang anak sulit mengambil keputusan untuk  memihak atau memilih untuk membela salah satu antara papa atau mama. Dan situasi seperti ini menjadikan dia  korban yang merasa terhimpit diantara dua pilihan, peristiwa seperti ini membuat anak menjadi  merasa kesepihan, dan merasa ditinggalkan.

3. Anxiety and feeling of insecurity. Merasa Tidak Aman/ Cemas.

Anak yang melihat konflik terjadi diantara orang tuanya, mereka mulai menderita  ketakutan dan kecemasan yang amat tinggi. Apalagi saat  mereka mendengar kata-kata cerai keluar dari bibir salah satu orang tuanya, ketakutan yang mencekam menghinggapi anak-anak ini. Menghadapi hal ini setiap anak menjadi sangat takut atau cemas. Perlu kita sadari  bahwa  setiap anak itu didalam lubuk hatinya takut berpisah dari orang tuanya, dan  mereka juga sangat takut  papa dan mamanya  berpisah. Karena hal ini akan menimbulkan kecemasan, dan ketakutan yang mendalam  didalam kehidupan mereka.

4. Feeling of rejection.

Anak merasa ditolak.  Pada saat orang tua bersitegang dan berkelahi  anak-anak akan diperhadapan pada satu pilihan, memihak atau memilih siapa yang di bela, siapa yang diikuti, dan dihormati  papa atau mama setelah perceraian terjadi, dan situasi sulit sepeti ini membuat mereka merasa serba salah  dan timbul perasan ditolak baik oleh salah satu maupun kadang-kadang  oleh kedua orang  tuanya.

Pengaruh buruk Sesudah Perceraian Terjadi.

Selanjutnya dalam kehidupan rumah tangga  yang  dipenuhi pertengkaran dan perkelahian, serta ketidak harmonisan dan perceraian, cepat atau lambat akan sangat mempengaruhi anak-anak mereka. Beberapa model anak yang  biasanya akan muncul  akibat korban perceraian orang tua, yaitu:  

1. Anger, and feeling of rejection.

Sebagian anak korban perceraian memiliki perilaku  nakal, tak terkendali, serta menjadi pemberontak dan  menimbulkan  berbagai masalah diluar rumah.  Hal seperti ini bisa terjadi antara lain disebabkan oleh:

a.  Adanya  pelampiasan dari rasa frustrasi, kemarahan dan perasaan ditolak yang dialaminya.

b. Terlalu seringnya orang tua mempraktekan perkelaian, pertengkaran dan anak mengadopsi prilaku buruk ini dalam melampiaskan  rasa frustrasinya.

c. Penyebab berikutnya adalah Anak yang telah kehilangan rasa Aman, rasa tentram dan penuh kedamaian yang selama ini dia alami.  Kini mereka menjadi kecewa dan marah kepada orang tua  yang berubah telah menciptakan rasa ketiadak amanan dalam diirinya.

d. Bagi anak yang harus menderita dan tinggal dengan salah satu orang tua akibat perceraian mereka juga telah kehilangan sosok ayah dan bisa juga sosok ibu yang seharusnya penuh kasih. Dan disinilah  berbagai letupan ketidak nyamanan dan ketidak amanan muncul dalam bentuk berbagai  kenakalan, dan ketidak patuhan, serta muncul rasa tidak begitu hormat kepada  kepada salah satu  orang tua yaitu  sang ibu atau sang ayah.

e.  Anak kehilangan jatidirinya. Status sebagai anak cerai yang harus disandang oleh anak-anak memberikan suatu perasaan  bahwa dia orang yang berbeda dari anak-anak lain dan dari sinilah perasaan ditolak semakin berkembang..

2.  Pervasive sense of loss and emptiness.

Model anak yang kedua  adalah   “Anak yang depresi, menutup diri dan  merasa diri hampa dan tak bermakna“. Sebagian besar  anak-anak takut  bila orang tua mereka bercerai. Perceraian orang tua bisa menggoncangkan jiwa anak-anak.  Salah satu penyebab timbulnya rasa hampa dan takutnya adalah: Mereka merasa takut masa depannya yang kini nyaman dan terjamin akan menjadi hancur berantakan.  Dan dari sinilah rasa frustari dan depresi  itu timbul.  Mereka  merasakan masa depannya akan suram dan hidup  begitu hampa dan tak bermakna. Maka sebagai akibatnya ada sebagian dari mereka  hidup  hanya untuk menuruti kehendak hatinya tanpa mengindahkan norma dan kaidah -norma di tengah masyarakat.

3. Model ketiga, Anak  Menjadi Penyelamat kuarga atau  menjadi semakin baik.

Hal ini biasanya dilakukan, karena anak sangat mengasihi orang tuanya dan biasanya dilakukan oleh anak yang sudah agak dewasa. Sebagai anak ia mencoba selalu menutupi kejelekan  sifat kedua orang tuanya. Bahkan ada diantara mereka yang  berusaha untuk mendamaikan orang tuanya. 

DAFTAR RUJUKAN

Nilakusmawati, Desak Putu Eka, dkk. 2008. Perselingkuhan dan Perceraian (Suatu Kajian Persepsi Wanita)– Adultery and Divorce (Study of Woman Perception). (Online). (http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/selingkung%20nila%20matematika.pdf, diakses 18 November 2009)

Sarjono, Supriyono. 2009. The Dissolutiion Of Marriage - Pengaruh Buruk Dari Perceraian. (Online),(http://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id =651 :the-dissolutiion-of-marriage-pengaruh-buruk-dari-perceraian&catid=43:rumah tangga & Itemid =63, diakses 18 November 2009)

Wallerstein, Judith S. dan Joan B. Kelly, 1980. Surviving the

Breakup. Basic Books. New York .

Leave a comment

Your comment